Menyajikan Standar dan Informasi seputar Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Indonesia

Pendahuluan

Komisi Pengembangan Pendidikan Kolegium Obstetri & Ginekologi Indonesia 2012-2015 bertugas meningkatkan kuantitas & kualitas PPDS-1 dan mengkoordinasi hubungan dengan luar negeri.

Kuantitas PPDS-1, penting terus dipertahankan bahkan ditingkatkan mengacu projeksi kebutuhan jumlah SpOG dalam negeri sampai ke pelosok daerah tahun 2014. Sementara, kualitasnya dapat dijaga melalui penguatan sistem pendidikan secara terstruktur dan terorganisasi. Tawar-menawar antara kuantitas dan kualitas ini membutuhkan kajian yang mendalam dan kerjasama didalam semangat kesepakatan yang konsisten.

Hubungan dengan luar negeri merupakan keharusan dalam kerangka globalisasi karena proteksi bukan masanya lagi. Persaingan merupakan cara yang tidak dapat dihindari dimana kerjasama internasional adalah pilihan.

1. Meningkatkan Kuantitas PPDS-1

Pada bulan Mei 2009, tercatat 792 PPDS-1 yang tersebar di  13 Pusat Pendidikan di Indonesia bekerjasama dengan Rumah Sakit Pendidikan Utama dan RS Jejaring afiliasi & satelit. Sementara itu, jumlah SpOG terdaftar di Kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah 2600  orang. Selain itu, pada akhir tahun 2009 jumlah SpOG adalah terbanyak dibandingkan dengan dokter spesialis lainnya. Terkesan bahwa jumlah ini cukup besar namun menurut perhitungan rasio, kuantitas tersebut masih kurang. Pada tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia adalah 234 juta jiwa terdistribusi 78% di pulau Jawa, Sumatra dan Bali dimana pada tahun 2014 diperkirakan penduduk Indonesia menjadi 240 juta. Dalam upaya pemerataan, distribusi ini juga terlihat sepertinya timpang. Distribusi yang tidak merata di Indonesia ini terutama sebagian kawasan Indonesia Tengah dan sebagian besar Indonesia Timur. Oleh karena itu, jumlah PPDS-1 masih pada tempatnya terus ditingkatkan yang pada akhirnya akan terdistribusi secara alamiah sesuai dengan hukum pasar. Meningkatkan kuantitas seharusnya berbarengan dengan perluasan akses dan infrastrukturnya agar kuantitas dan kualitas berjalan seimbang.

Berapakah projeksi kebutuhan SpOG di Indonesia untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam negeri dan untuk bersaing ditingkat dunia.  Dan berapakah daya tampung PPDS-1 untuk dapat menyelenggarakan kurikulum pendidikan dengan efektif dan efesien dengan tetap bersemangat dalam kesepakatan.

Secara umum, Kemkes RI mengisyaratkan bahwa rasio SpOG: penduduk adalah 1:70.000 penduduk dimana jumlah projeksi penduduk tahun 2014 adalah 240 juta jiwa. Berdasarkan hal itu, dibutuhkan 3.430 SpOG. Kalau jumlah penerimaan 160/tahun dan lama pendidikan 70,8% empat tahun dan sisanya 5 tahun maka jumlah SpOG tahun 2014 adalah 2953 orang dan masih kekurangan sebanyak 477 orang. Sementara sampai akhir tahun 2009, jumlah SpOG di Indonesia 2265 dan asumsi jumlah SpOG pada tahun 2012 adalah 2765. Dengan demikian, dibutuhkan peningkatan 15% daya tampung dengan asumsi tidak terdapat penambahan pusat pendidikan baru. Secara umum dapat ditempuh penguatan tatakelola pendidikan dan kerjasama antar pusat pendidikan.

Dalam hal ini telah ditetapkan sesuai rumus jumlah penerimaan PPDS-1 seperti berikut:

Image

Keterangan:

  • Jumlah staf
  • Rekrutmen PPDS-1

Strategi berikutnya adalah memberikan kesempatan kepada PPDS-1 dan SpOG yang memiliki semangat berdedikasi dalam pendidikan serta kelebihan lainnya untuk diangkat menjadi staf di pusat pendidikan. Dengan demikian jumlah staf akan terus dapat ditambah dan menunjukkan kwalitasnya.

2. Meningkatkan Kualitas PPDS-1

PPDS-1 didorong dan diberi kesempatan untuk terus meningkatkan kemampuannya menuju klas dunia. Sekitar 15-20% PPDS-1 sebaiknya termasuk dalam kelompok ini yang disertakan dalam pendidikan kelas dunia seperti terdaftar sebagai fellow pada pendidikan benchmarking. Selanjutnya, dilakukan rekrutment menjadi staf pendidik dan didorong kearah pendidikan subspesialis yaitu konsultan.

Kualitas PPDS-1, seharusnya sejalan dengan kebutuhan dalam negeri dan juga dalam jumlah terbatas berstandard word class. Kualitas SpOG untuk memenuhi pasar dalam negeri sangat penting untuk mendapat perhatian, terlebih lagi adanya keputusan pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKP melalui penjaminan dan asuransi kesehatan semesta. Meningkatkan kualitas untuk dapat bersaing ditingkat global

juga tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, sebagian dari PPDS-1 secara terus menerus dipacu kedaerah persaingan tersebut melalui kerjasama luar negeri. Kualitas ini juga dapat diraih dengan program pertukaran residen antar pusat pendidikan di Indonesia sendiri dimana hal ini memerlukan kajian lebih lanjut ditingkat regulasi dan pelaksanaan.

Meningkatkan kualitas PPDS-1 melalui pelakasanaan tatakelola kurikulum pendidikan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (KOGI Manado, 2006) yang masih dapat ditambah dengan muatan lokal adalah metode terpilih.

Dengan demikian, bimbingan dan pengawasan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi tersebut harus mendapat perhatian dan penanganan lebih serius melalui berbagai upaya strategik. Hal ini secara operasional ditangani oleh Komisi Penerapan Modul. Dalam upaya untuk menjaring PPDS-1 yang memiliki potensi untuk menjadi staf pusat pendidikan agar dilakukan penilaian selama mereka dalam pendidikan. Selain itu, PPDS-1 yang berpotensi untuk menjadi profesional juga diberikan kesempatan mengikuti pendidikan tambahan menuju world class. Kualitas PPDS-1 juga dapat dicapai melalui pertukaran stase antar Pusat Pendidikan di Indonesia sendiri.

Selanjutnya, kualitas standard dunia dan pendidikan khusus akan dapat mengatasi risiko distribusi yang diduga kurang berkeadilan. Dalam hal ini, 10-15% SpOG didorong untuk mengikuti program pendidikan konsultan atau program khusus dimana mereka akan dapat bersaing diera globalisasi, terutama di kota besar. Jadi tahun 2012, sekitar 450 SpOG akan berada dipuncak piramid pendidikan, pelayanan, dan penelitian. Sementara sisanya sekitar 2800 melakukan pelayanan Obstetri dan Ginekologi yang tugas utamanya adalah menurunkan angka kematian ibu dan perinatal dalam kerangka MDGs.

3. Mengkordinasi Kerjasama  Dengan Luar Negeri

Mengkordinasi hubungan luar negeri merupakan tugas khusus yang harus mendapat perhatian lebih. Sampai dengan tahun 2009, setiap Pusat Pendidikan telah menjalin kerjasama dengan luar negeri; akan tetapi belum terinventarisasi sepenuhnya di Kolegium. Hal ini mengakibatkan informasi untuk memperoleh kesempatan pendidikan masih sektoral dan berbasis pusat pendidikan saja. Oleh karena itu diperlukan kordinasi kesepakatan kerjasama dengan luar negeri ini; suatu upaya reorganisasi.

Hal ini dapat dicapai melalui penguatan tatakelola, akuntabilitas dan pencitraan publik sehingga  kerjasama dengan luar negeri dapat diwujudkan dalam azas legalitas. Sampai saat ini, setiap pusat pendidikan telah memiliki kerjasama dengan luar negeri, akan tetapi belum terkordinasi. Dengan demikian,  kerja Komisi Pengembangan Pendidikan Kolegium POGI 2009-2012 lebih menitikberatkan kepada kordinasi sehingga tercapainya prinsip efektif, efesien, transparansi, dan akuntabilitas.

Pada tahap awal akan dilakukan inventarisasi jenis kerjasama informal-formal. Selanjutnya, dilakukan sinkronisasi kegiatan untuk mencapai manfaat sebesar-besarnya terkait pendidikan PPDS-1.

Pertukaran PPDS-1 dengan tranee luar negeri merupakan prioritas program kerja untuk tahun 2009-2012 ini, baik melalui hubungan personal maupun kelembagaan.

Upaya mencari dana untuk menunjang kerjasama ini merupakan bagian tersendiri yang disusun dalam kerangka nota kesepahaman yang jelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: