Menyajikan Standar dan Informasi seputar Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Indonesia

Archive for the ‘International’ Category

Workshop Indonesian College of ObGyn & Royal College of ObGyn

The Workshop: “the Indonesian College of Obstetrics and Gynecology (ICOG) and the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) collaboration for increasing the ObGyn training quality in Indonesia”, Novotel Mangga Dua Sqr Jakarta, 19 March 2016 with Prof Janice M. Rymer, FRCOG and Dr. Norman C. Smith, FRCOG (Board of RCOG), England.

How to make accountable examination and How to adopt the RCOG curriculum in Indonesia. ex.

IRCA Lead Auditor Course ISO 9001:2008 & IWA 2:2007 #3&4

ImageKolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia bekerjasama dengan British Standard Institution kembali menyelenggarakan Kursus Lead Auditor ISO 9001:2008 berbasis IWA2:2007 pada tanggal 5-9 Februari 2014 di TS Surabaya. Kursus kali ini merupakan gabungan antara angkatan ke-3 dan ke-4. Kursus diikuti oleh 35 peserta dari 14 senter Pendidikan Obstetri dan Ginekologi. Prof. Heru Santoso sebagai Komisi Akreditasi Kolegium hadir sebagai Direktur Pelatihan, bersama Prof. Soegiharto Soebijanto. Dari British Standard Institution dipimpin oleh Bapak Sholichin A. Darmawan – Registered Lead Assessor. Diharapkan melalui pelatihan ini akan lebih memperkuat dan meningkatkan sistem manajemen mutu di senter pendidikannya masing-masing.

_DSC2418  _DSC2446  _DSC2447  _DSC2448  _DSC2449_DSC2450  _DSC2451 _DSC2452  _DSC2453 _DSC2454  _DSC2455

IRCA Lead Auditor ISO 9001:2008 (based on IWA 2:2007) Course

Kolegium bekerjasama dengan British Standard Institution menyelenggarakan IRCA Lead Auditor ISO 9001:2008 (based on IWA 2:2007) Course Angkatan ke-2 di Hotel Singgasana Surabaya, 16-20 Januari 2014. Pelatihan diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas KPS, SPS ataupun dari staf dari 15 Senter Prodi Obgin seluruh Indonesia.

ImageTujuan Pembelajaran. Kursus ini dirancang untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan mereka untuk melakukan dan audit utama ISO 9001 dan sistem manajemen BAN-PT skema Akreditasi. Ini menyediakan fondasi yang mereka dapat membangun pengalaman audit mereka dan mengembangkan kompetensi mereka. Siswa yang berhasil menyelesaikan kursus akan telah memenuhi persyaratan pelatihan BSI dan IRCA auditor registration schemes.
Berikut, foto-foto keseriusan peserta kursus :
_DSC2240 _DSC2241 _DSC2242 _DSC2243 _DSC2244 _DSC2245 _DSC2246 _DSC2247 _DSC2248

Pelatihan Auditor IRCA Lead Auditor ISO 9001:2008 dan sertifikasi ISO 9001:2008 bagi seluruh Ketua Program Studi Obstetri dan Ginekologi

Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia bekerjasama dengan British Standards Institutions (BSI) akan menyelenggarakan Pelatihan Lead Auditor ISO 9001:2008 beregistrasi IRCA, yaitu pelatihan yang berlaku universal bagi para profesi auditor sistem manajemen mutu. Pelatihan akan diselenggarakan pada tanggal 16-20 Januari 2014 di Hotel Singgasana, Jl. Gunungsari, Surabaya.

Pelatihan akan diikuti oleh seluruh Ketua Prodi Obstetri dan Ginekologi di Indonesia. Di akhir pelatihan diadakan examinasi dan ujicoba borang akreditasi Prodi.

Dimohon kepada 13 Senter + 2 Senter baru untuk mempersiapkan diri.

Image

Rapat AFTA Kolegium OBGIN

_DSC0778Rapat AFTA Kolegium OBGIN

LOKAKARYA MENGENAI ANTISIPASI MASUKNYA DOKTER ASING KE INDONESIA

Globalisasi di berbagai sektor yang mengarah pada pasar bebas tidak bisa dihindari oleh negara-negara anggota WTO termasuk Indonesia. Di era ini, batas negara semakin menghilang, sementara kemajuan teknologi dan informasi berkembang demikian cepat. Globalisasi mempengaruhi perubahan di semua sektor, tidak terkecuali dunia kedokteran.

Sudah lama menjadi keinginan agar dokter-dokter kita menjadi tokoh-tokoh global di dunia kedokteran internasional, bukan hanya menjadikan dokter Indonesia, tuan di rumahnya sendiri.

Pengaturan profesi kedokteran harus menjamin bahwa rakyat Indonesia terlindung dari praktik dokter yang merugikan. Masuknya dokter asing hanya untuk alih teknologi. Oleh karena itu, yang penting sekarang adalah bagaimana kita mengawal dan menjalankan kebijakan itu dengan baik sehingga tidak disalahgunakan.

Peran organisasi profesi seperti POGI dan lingkungannya untuk ikut mengawasi keberadaan dokter asing di Indonesia. Perhatian kedua adalah pendidikan kedokteran yang harus ditingkatkan terus kualitasnya. Kita memerlukan dokter dalam jumlah yang cukup banyak, agar disebarkan ke seluruh penjuru negara kita, sehingga rakyat di daerah terpencil dapat juga merasakan pelayanan kedokteran, sehingga tidak ada alasan untuk memasukkan dokter asing.

Saat ini sudah ada lebih dari 13 Senter Pendidikan Obgin ditambah 4 Senter baru ditambah RS pendidikan yang memiliki tenaga kesehatan yang handal dengan jumlah kasus (pasien) yang cukup.

Dokter asing yang datang ke Indonesia adalah dalam rangka alih teknologi. Niat mereka datang kemari adalah untuk meningkatkan keilmuan dokter Indonesia. Oleh karena itu mereka harus membawa Ilmu yang aman dan sudah teruji secara ilmiah (Evidence Based Medicine), sehingga membawa manfaat yang besar bagi masyarakat. 
Untuk itu perlu dilakukan antisipasi dan pengawasan yang kuat terhadap masuknya dokter asing. Banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia dengan menggunakan izin dari berbagai instansi, menggunakan ijin operasional hanya untuk melayani warganya, atau ada yang mengaku tenaga dokter tetapi bidang ilmunya bukan kedokteran. Hal ini harus ditertibkan dengan memberikan peraturan yang jelas dan transparan.

Lokakarya akan diselenggarakan pada Kamis, 29 Agustus 2013 di Kantor Kolegium Obgin, Jl. Taman Kimia 10 Jakarta Pusat. Sebagai pembicara Ketua Kolegium, Ketua PB POGI dan Perwakilan RS. Lokakarya terbatas ini akan diikuti oleh Pengurus Kolegium, Pengurus POGI, Para Pengurus Himpunan dan Koordinator Pendidikan Konsultan.

Diharapkan dari Lokakarya akan diperoleh kesepakatan mengenai antisipasi masuknya dokter asing ke Indonesia. 

International

Medicine nobel prize winners 2012 ?? British scientists, Briton John Gurdon and Shinya Yamanaka from Japan won the Nobel Prize for medicine in 2012